I wrote it in Bahasa Indonesia
Beberapa hari yang lalu, ada sebuah pembicaraan panjang dengan beberapa teman tentang sebuah pengakuan. Bahwa kita manusia membutuhkan sebuah pengakuan dari pasangan kita. Bukan sebuah kata cinta yang diucapkan berkali-kali, tapi tanpa ada pengakuan. Mempertanyakan dimana cinta diletakkan. Adakah tempat untuknya berpijak, ataukah harus dibiarkan melayang laksana hantu yang tidak bisa menjejakkan kaki ke tanah? Sebagian besar dari kita ingin memiliki apa yang kita inginkan. Dan itu butuh sebuah pengakuan
Beberapa pertanyaan yang cukup complicated pun muncul tanpa ada jawaban. Karena orang-orang yang seharusnya menjawab pertanyaan itu tidak ada disana. Semuanya bergulir seperti sebuah Lost Message. Ketika kutanya, akankah kita mengutarakannya? Sebagian menjawab, ‘Sudahlah, semua sudah berlalu. Waktunya kita menutup lembaran itu dan membuka lembaran baru tanpa mengulang kesalahan yang sama.’ Yang lain menjawab, ‘Aku takut. Jika dia tidak mengerti, maka akan timbul masalah baru.’ Ada pula yang menjawab, ‘We’ll see…’ Hampir semua jawaban mengarah kepada keraguan, dan kenyataan ini membuat kami semua terdiam.
Tak lama, aku menerima SMS dari seorang teman lama, ‘Kita tidak memiliki apa-apa kecuali diri kita sendiri. Dan diri kita sesungguhnya amat besar, agung. Kita mampu menampung apa saja, lebih dari yang kita duga, andaikata kita tidak mengikatnya pada sesuatu. Semakin banyak yang kita relakan, semakin besar keleluasaan diri yang kita rasakan – Supernova 1’. SMS ini membuatku membuka kembali buku yang hampir 8 tahun ini jadi penghuni setia lemari bukuku, Supernova : Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh, membuat tulisan yang sebelumnya dari penggalan buku ini.
Hari Minggu malam, secara kebetulan kami kembali berkumpul. Dan aku sharingkan penggalan lain buku ini, yang mungkin berupa jawaban transparan atas permasalahan yang kami sharing-kan beberapa hari sebelumnya.
‘Sesungguhnya Anda memang tidak perlu berusaha memiliki apa-apa. Anda adalah segalanya. Sekarang, tidakkah Anda heran dengan orang-orang yang menguras seluruh energinya untuk mempertahankan sesuatu? Justru ketika Anda melepaskan ketrikatan pada sesuatu, Anda semakin dengkat dengan Keutuhan. Mencintai sesuatu atau seseorang dengan keutuhan diri adalah satu-satunya cara mencinta. Sementara perasaan tidak lengkap atau ketergantungan adalah refleksi jarak Anda dengan diri sendiri.’
Tak perlu mengharapkan sesuatu yang bukan milik kita, karena kita akan mendapatkan bagian kita sesuai dengan porsi yang telah Tuhan tentukan untuk kita. Keep praying!
makasih sudah berkenan mampir
keep update ya
quoted:”Kita tidak memiliki apa-apa kecuali diri kita sendiri.”
>>benarkah kita memiliki diri kita?
>>mampukah kita mengklaim sesuatu yang secara hakiki terberi?
>>bukankah eksistensi kita sejatinya merupakan anugerah? pemberian?
>> maka mnurut saya, diri kita-pun tak kita miliki.
“Sesungguhnya Anda memang tidak perlu berusaha memiliki apa-apa. Anda adalah segalanya”
>> sepertinya indah… namun sayup-sayup saya mendengar dengungan antrophosentris dibaliknya.
>> tentu boleh dan sah menjadikan diri sendiri sebagai pusat dari segalanya. namun hati-hati, karena dengan begitu artinya Tuhan perlahan-lahan mulai digeser dari pusat segalanya.
“Justru ketika Anda melepaskan ketrikatan pada sesuatu, Anda semakin dekat dengan Keutuhan”
>> sepakat 100%
>> Yesus menurut kesaksian Injil Lukas secara kontroversial telah mengungkapkan kebenaran ini dengan berujar “Bencilah!, salibkan, lepaskan”
syallom.
salam damai sejahtra.
Terima kasih atas koreknya, Pak Ndiman
Jangan lupa untuk sering nengokin blogs ini. Karena kadang karena sebuah emosi sesaat muncul sebuah pembenaran diri yang belum tentu itu sesuai dengan Firman Tuhan.
GBU!